Sebulan Pascabanjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Masih Bertahan di Tengah Lumpur dan Keterisolasian

Kondisi pemukiman warga di Aceh Tamiang satu bulan pasca banjir bandang. Jalanan masih berlumpur dan digenangi air.(Foto: Dok. Relawan P2LH)

AcehGo.com | Aceh Tamiang – Satu bulan setelah banjir bandang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, kondisi di sejumlah wilayah terdampak dinilai masih sangat memprihatinkan. Minimnya penanganan pascabencana membuat pusat kota hingga pelosok desa tampak seolah baru saja diterjang banjir.

Relawan Perkumpulan Pembela Lingkungan Hidup (P2LH), Aldi Ferdian (24), mengungkapkan bahwa saat memasuki Kota Tamiang, genangan air dan sisa lumpur masih terlihat jelas. Menurutnya, proses pembersihan berjalan lambat meski akses dan mobilisasi di wilayah perkotaan seharusnya sudah lebih mudah.

“Di kota saja masih ada air. Dari hasil pengamatan saya, warga masih saling membantu sesama warga. Saat kami masuk Kota Tamiang, kondisinya seperti baru kejadian, padahal ini pusat kota,” ujar Aldi kepada Kompas.com, Kamis (25/12/2025).

Kondisi yang lebih parah ditemukan di kawasan Lubuk Siduk dan Desa Sikumur. Jalanan berlumpur, tumpukan puing kayu yang belum dibersihkan, hingga akses yang masih terisolir menjadi pemandangan sehari-hari. Hingga kini, warga Desa Sikumur hanya bisa mengandalkan perahu motor untuk menyeberangi sungai demi mendapatkan pasokan kebutuhan dasar.

Meski bantuan logistik berupa makanan mulai mencukupi, para penyintas kini menghadapi kebutuhan mendesak lainnya, terutama perlengkapan tidur. Banyak warga kehilangan harta benda dan terpaksa beristirahat di kondisi yang jauh dari kata layak.

“Yang paling dibutuhkan sekarang itu tikar atau alas tidur dan selimut. Masih ada warga yang tidur di atas papan. Anak-anak di sana mengaku setiap malam kedinginan. Sedih sekali melihatnya,” tutur Aldi.

Relawan dan Warga Bangun Helipad Darurat

Menanggapi keterbatasan akses darat, para relawan bersama masyarakat Desa Sikumur berinisiatif membangun helipad darurat. Langkah ini dilakukan agar bantuan melalui jalur udara dapat segera disalurkan dengan aman dan efektif.

Inisiatif tersebut juga merespons pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang berencana mengerahkan sekitar 200 unit helikopter untuk memperkuat penanganan bencana di wilayah Sumatera. Warga berharap bantuan udara itu dapat menjangkau desa-desa terpencil yang hingga kini masih sulit diakses.

“Kami bergerak bersama masyarakat karena kondisi darurat tidak bisa menunggu. Helipad ini kami siapkan agar ketika bantuan udara digerakkan pemerintah, Desa Sikumur sudah siap menjadi titik pendaratan dan distribusi,” kata Aldi.

Hingga kini, warga Aceh Tamiang masih menanti kehadiran negara secara lebih nyata, tidak hanya dalam bentuk bantuan logistik, tetapi juga pemulihan lingkungan dan akses hidup yang layak bagi para penyintas banjir bandang.

Facebook Comments Box