Kritik Pemprov Aceh Soal Harga Tiket Mahal Saat Peresmian Pesawat Simulasi untuk Manasik Haji
Banda Aceh – Pemerintah Aceh mengkritik tingginya harga tiket penerbangan rute Aceh–Jakarta. Kondisi tersebut dinilai cukup ironis karena biaya perjalanan dari Aceh ke Jakarta melalui Kuala Lumpur, Malaysia, justru lebih murah dibandingkan penerbangan langsung.
Kritikan itu disampaikan Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah saat peresmian pesawat simulasi untuk manasik dan Gedung A2 Grand Misfalah di Asrama Haji Kelas I Aceh, Banda Aceh, Minggu (15/2/2026).
Hadir dalam peresmian itu Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak, Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny Kairupan, Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, serta Direktur Utama Citilink.
“Pihak maskapai kami minta untuk mempertimbangkan kondisi tersebut dan menyesuaikan kembali harga tiket agar lebih terjangkau bagi masyarakat,” kata Fadhlullah.
Dia turut menyinggung kehadiran pesawat simulasi dengan sejarah perjuangan rakyat Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Fadhlullah mengingatkan peran penting Aceh pada masa Agresi Militer Belanda tahun 1947 dan 1948, ketika wilayah ini menjadi salah satu daerah yang tidak berhasil diduduki.
Ia juga menyinggung kunjungan Presiden Soekarno ke Aceh pada 16 Juni 1948, saat menyerukan penggalangan dana untuk pembelian pesawat guna mendukung perjuangan Republik yang tengah diblokade.
Seruan tersebut disambut antusias para saudagar yang tergabung dalam GASIDA bersama masyarakat Aceh, hingga berhasil mengumpulkan dana sebesar 120.000 dolar Malaya dan emas seberat 20 kilogram.
Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli pesawat Dakota DC-3 yang menjadi cikal bakal Indonesian Airways, yang selanjutnya berkembang menjadi Garuda Indonesia.
Pesawat itu dikenal dengan nama Seulawah RI 001 dan menjadi simbol solidaritas rakyat Aceh bagi kelangsungan Republik.
“Semua ini adalah bukti dan kenyataan betapa rakyat Aceh mencintai republik ini,” tegas Fadhlullah.
















