Konflik di Timur Tengah, Adakah Dampak untuk Keberangkatan Jemaah Haji Aceh?

Banda Aceh – Di tengah lonjakan biaya penerbangan global akibat konflik di Timur Tengah pasca serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, keberangkatan jemaah haji Indonesia, termasuk di dalamnya 5.500 jemaah haji asal Aceh tahun 2026 justru tanpa kenaikan ongkos.

Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, mengungkapkan kenaikan harga avtur dan tekanan sektor penerbangan internasional memang berdampak langsung pada biaya operasional haji. Namun, pemerintah pusat memilih menyerap lonjakan tersebut agar tidak dibebankan kepada jemaah.

“Dampaknya pasti ada, terutama pada biaya operasional penerbangan. Tapi semua sudah diantisipasi pemerintah pusat, sehingga tidak membebani jemaah,” kata Fadhlullah di Asrama Haji Embarkasi Aceh, Senin (4/5/2026).

Ia menegaskan, kebijakan ini membuat biaya haji bagi jemaah Indonesia tetap stabil, meskipun negara harus menanggung tambahan anggaran dalam jumlah besar. Hal tersebut berbeda dengan negara-negara lain yang terpaksa menambah ongkos perjalanan haji lantaran harga avtur naik.

“Walaupun ada tambahan beban negara hingga triliunan rupiah, jemaah kita tidak ada penambahan biaya,” ujarnya.

Besok, Kloter 1 jemaah haji embarkasi Aceh asal Kota Banda Aceh dan Aceh Besar dengan jumlah total 393 jemaah, akan masuk asrama.

Acara pelepasan jemaah dilakukan Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem sekitar pukul 16.00 WIB.

Usia pelepasan, jemaah istirahat sejenak sebelum nantinya menuju Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Aceh Besar untuk terbang Rabu 6 Mei 2025 pukul 01.05 WIB.

“Kloter 1 ini akan landing di Madinah. Selebihnya, dari 2 sampai kloter 14 akan landing di Jeddah,” kata Arijal, Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Aceh.

Facebook Comments Box