Search
Sign In

Aceh

  • Viewed - 54

Sejarah

Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda (Inggris: Sultan Iskandar Muda International Airport, Aceh: Bandar Udara Antar Nanggroë Sultan Iskandar Muda), dikenal juga dengan Bandar Udara Internasional Banda Aceh (Inggris: Banda Aceh International Airport) (IATA: BTJICAO: WITT) adalah sebuah bandar udara yang melayani Kota Banda Aceh dan sekitarnya, yang terletak di wilayah Kecamatan Blang Bintang, Aceh Besar, Provinsi Aceh. Nama bandara ini diambil dari nama Sultan Iskandar Muda, seorang Raja dari Aceh. Bandara ini dikelola oleh PT Angkasa Pura II, untuk melayani rute domestik dan internasional. Saat ini sudah ada tiga penerbangan internasional, yaitu Air Asia ke Kuala Lumpur dan Firefly ke Penang dan Malindo Air ke Penang. Untuk saat ini bandara Sultan Iskandar Muda masih memiliki 8 parking stand

Bandara ini juga pernah difungsikan sebagai basis pengiriman obat-obatan sesudah Gempa bumi Samudera Hindia 2004, yang hilir mudik dari berbagai wilayah di Dunia, kepada para pengungsi yang terisolir di berbagai wilayah yang dihantam Tsunami di Aceh. Setelah dilanda Tsunami pada 26 Desember 2004, bandara ini telah direnovasi dan memiliki landasan pacu sepanjang 3.000 meter yang mampu menampung pesawat berbadan lebar. Pada 9 Oktober 2011 sebuah Boeing 747-400 berhasil melakukan take off dan landing, yang membuktikan bahwa bandara ini bisa dijadikan tempat transit bagi perusahaan penerbangan internasional.

Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda mendapatkan predikat Bandara Terbaik Dunia untuk Wisatawan Halal di Dunia Halal Tourism Awards 2016.

Sejarah

Bandara Sultan Iskandar Muda dibangun oleh Pemerintah Jepang pada tahun 1943. Saat itu, bandara ini memiliki landasan pacu sepanjang 1400 meter dan lebar 30 meter berupa huruf T dari ujung selatan memanjang dari timur ke barat.

Pada tahun 1953 Bandara Sultan Iskandar Muda (pada waktu itu bernama Bandara Blang Bintang) dibuka kembali oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk tujuan pendaratan pesawat. Landasan pacu hanya menggunakan landasan pacu dari Utara ke Utara sepanjang 1400 meter. Pesawat pertama yang mendarat setelah dibuka kembali adalah DC-3 Dakota, dan beberapa tahun kemudian, Convair 240.

Pada tahun 1968, bandara ini telah mengembangkan perluasan landasan pacu hingga 1.850 meter dengan lebar 45 meter, dan celemek 90 x 120 meter, sehingga bisa menampung pesawat yang lebih besar seperti Fokker F28.

Pada tahun 1993 dan 1994, Bandara Sultan Iskandar Muda kembali mengalami perkembangan yang terkait dengan MTQ Nasional yang diadakan di Banda Aceh, dengan perluasan landasan pacu 2250 x 45 meter, yang dapat menampung pesawat DC-9 dan B-737 dan didukung dengan pemasangannya. Dari Radar yang terletak di Gunung Linteung sekitar 14 & nbsp; km dari bandara.

Pada tanggal 9 April 1994, Bandara Sultan Iskandar Muda bergabung dengan PT (Persero) Angkasa Pura II, berdasarkan surat Menteri Keuangan No. 533 / MK.016 / 1994 dan Surat Menteri Perhubungan A. 278 / AU.002 / SKJ / 1994

Perubahan nama Bandara Blang Bintang ke Bandara Sultan Iskandar Muda adalah:

  1. Surat Legislatif Daerah Istimewa Aceh Nomor 553.2 / 661 tanggal 4 April 1995
  2. Surat Gubernur Daerah Khusus Aceh Nomor 553.2 / 8424 tanggal 11 April 1995
  3. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 20 Tahun 1995 tanggal 11 Mei 1995 tentang Perubahan nama Bandara Blang Bintang menjadi Bandara Sultan Iskandar Muda.

Pada tahun 1999, Bandara Sultan Iskandar Muda melanjutkan pengembangan dengan menambahkan landasan pacu sepanjang 2.500 meter untuk dapat menampung pesawat A330, untuk melayani keberangkatan para peziarah sehubungan dengan pemilihan Bandara Sultan Iskandar Muda sebagai salah satu ziarah embarkasi / pelayaran .

Perkembangan terakhir dari bandara ini adalah pada tahun 2009 di mana panjang landasan pacu kembali meningkat menjadi 3000 meter dengan lebar 45 meter, bangunan terminal baru menggantikan bangunan terminal lama. Bandara ini diresmikan secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pada 20 Agustus 2009, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono datang ke Aceh secara resmi untuk membuka Pekan Budaya Aceh tahunan kelima (Pekan Kebudayaan Aceh).

Bandar udara ini pernah dilayani oleh Garuda Indonesia sebanyak 4 (empat) kali.

Pemegang kendali

Bandar udara ini kendali operasionalnya dipegang PT Angkasa Pura II yang juga menaungi 11 Bandar udara lainnya.

Maskapai dan destinasi

Maskapai penerbangan penumpang

Maskapai Tujuan
AirAsia Kuala Lumpur–Internasional (dilanjutkan 24 Desember 2022)
Batik Air Jakarta–Soekarno–Hatta
Citilink Jakarta–Halim Perdanakusuma, Jakarta–Soekarno–Hatta, Medan
Garuda Indonesia Jakarta–Soekarno–Hatta, Medan
Musiman: Jeddah, Madinah
Indonesia AirAsia Medan[1]
Lion Air Jakarta–Soekarno–Hatta, Medan
Musiman: Jeddah,[Catatan 1] Madinah[Catatan 2]
Susi Air Blangkejeren, Blangpidie, Kutacane, Meulaboh
Wings Air Medan
Jangan Lupa di Bagikan :

Lihat Lokasi

Add Review

Your email is safe with us.
Add Photos